“Jangan Biarkan Aku, Jangan Hilang” (Rumahsakit – Hilang)
Setelah sekian lama menghilang dari hingar bingar panggung musikal, Rumahsakit, salah satu band legendaris dari skena independen ibu kota, kembali menyapa para penggemarnya untuk bereuni dan meluncurkan album baru bertajuk 1+2 yang merupakan representasi dari dua album mereka sebelumnya. Mengambil judul I.C.U 12.12.12, launching yang diselenggarakan di Eclectic Bar & Resto, Cilandak Town Square pada tanggal cantik 12-12-2012 ini, menjadi bukti bahwa sampai saat ini Rumahsakit tak pernah membiarkan dirinya hilang.
Acara yang disupport penuh oleh SRM Band Management ini tentunya meraih antusiasme yang besar dari para fans Rumahsakit yang kerap disebut pasien, mengingat band yang terbentuk di tahun 1994 dari sekumpulan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini memang merupakan salah satu pionir scene indies/pop alternative di Indonesia yang telah memiliki pengaruh kuat. Dua album mereka terdahulu, yakni s/t (1997) dan Nol Derajat (2000) pun telah dianggap artefak sejarah dari skena indie Indonesia.
Berdasarkan hal tersebut, maka tak heran jika kabar kembalinya mereka, apalagi dengan album baru, menjadi sebuah momen yang spesial. Tiket acara yang dijual sebanyak 400 tiket pun terjual habis dalam waktu singkat baik tiket pre-sale maupun on the spot, itu pun masih menyisakan penggemar yang menunggu di luar karena tak kebagian tiket. Hal ini membuktikan, jika band yang memutuskan untuk bubar pada tahun 2004 ini, memang masih sangat ditunggu oleh para penggemarnya.
Gate dibuka pukul 21.00 WIB, DJ Robot yang juga mengisi acara malam itu, memanjakan penonton yang datang dengan lagu-lagu indies 90-an yang mengalun dari playlistnya, terdengar Chapterhouse, My Bloody Valentine, Ride, dan lain-lain menyeruak ke seisi Eclectic. Tak lama kemudian, L’alphalpha sebagai band pembuka menyapa penonton dengan beberapa nomor andalan mereka. Suguhan nada postrock yang dipadukan dengan alunan pop lembut yang teduh menjadi sajian yang mereka mainkan malam itu. Tak kurang dari 4 lagu mereka bawakan, seperti “Feature Day”, “Reverie”, “Fireworks”, dan “Clouds”.
Usai L’alphaalpha dengan set-nya, kemudian naik Ballads of The Cliche. Band yang sudah tak asing lagi di ranah indiepop ibu kota ini, tampil agak berbeda malam itu. Muncul hanya dengan empat personil, band yang biasanya membawakan alunan musik pop kalem ala Belle Sebastian ini, ternyata memilih untuk tidak membawakan lagu milik mereka sendiri.
Mereka lebih memilih tampil lebih liar malam itu dengan mengcover lagu-lagu indies yang hits di tahun 90-an mulai dari Pulp, Placebo, The Wannadies, hingga Stone Roses. Terbukti nomor yang mereka bawakan malam itu membawa kembali nuansa 90-an yang membuat penonton tak mampu menahan diri untuk ikut bernyanyi dan menggoyangkan badan. Bobby, vokalis Ballads of The Cliche sempat berujar, malam itu Ballads of The Cliche is dead dulu, dia ingin menyambut Rumahsakit dengan menghadirkan kembali nuansa Poster Cafe.
Selesai Ballads of The Cliche memanaskan panggung Eclectic dengan lagu-lagu cover versionnya, penonton kemudian disuguhkan dengan video klip dari single terbaru Rumahsakit yang berjudul Bernyanyi Menunggu. Penonton yang memang tampak telah sangat merindukan kembalinya Rumahsakit terlihat sangat terpukau dengan konsep baru yang lebih fresh dari Rumahsakit, selain itu videoklip yang dibuat kreatif dengan dibintangi oleh para buah hati dari keluarga besar Rumahsakit pun, mengundang tepuk tangan meriah dari para penonton.
Tak lama berselang, yang ditunggu-tunggu pun mulai datang. Satu per satu para personil mulai naik stage. Nampak terlihat Mark Najoan (gitar), Mickey Najoan (keyboard), Shendy Adams (bass), dan Fadli Wardhana (drum) mulai mempersiapkan set mereka. Hilang dimainkan sebagai lagu pertama. Di tengah-tengah intro, kemudian muncul Andri LMS (vokal), yang disambut meriah tepuk tangan penonton. Tak ayal, lagu hits yang di ambil dari album pertama Rumahsakit ini, langsung menjadi koor penonton.
Seolah masih ingin bernostalgia dengan lagu lama, “Kuning” kemudian dipilih sebagai lagu ke dua. Tak menurunkan ritme, para fans kembali bernyanyi dan menggoyangkan badan tanda menikmati. Usai “Kuning”, kemudian lagu baru diperkenalkan. “Waktu Bersama” dan “Selamanya” sedikit menenangkan penonton malam itu.
Tapi itu tak berlangsung lama, Andri LMS kemudian kembali memanjakan penonton dengan “Anomali”, “Mati Suri”, “Sakit Sendiri”, hingga sebuah lagu baru yang kental dengan nuansa Charlatans, “Sirna”. Andri LMS dengan gaya khasnya yang mengawang, tak banyak kata, dan tatapan polos, memunculkan kharisma tersendiri dari vokalis yang tetap terlihat muda kendati di usia yang sudah semakin menua. Para personil lain pun begitu, performa mereka tetap terlihat enjoy dan tak jauh berbeda ketika masa kejayaan mereka di era Poster Cafe dulu.
“Bernyanyi Menunggu” kemudian menjadi penyambung keriaan malam itu. Lagu baru yang sebelumnya telah dirilis melalui web mereka beberapa waktu lalu, kembali mengundang penonton untuk bernyanyi bersama. Keceriaan malam itu, kemudian diakhiri dengan tembang megahits dari album pertama Rumahsakit. Yap, “Pop Kinetik” menjadi penutup malam itu. Stage diving pun tak terhindarkan lagi, beberapa penonton bahkan ikut merangsek ke atas stage untuk bersama-sama bernyanyi dan berbagi kesenangan malam itu. Di akhir lagu, Andri LMS pun kemudian diarak keliling ruangan, diiringi euphoria penonton yang nampaknya masih enggan konser malam itu segera berakhir.
Tapi seperti apa yang Andri LMS katakan di panggung malam itu, ada pertemuan maka ada perpisahan, dan I.C.U 12.12.12 pun berakhir. Sebelum turun panggung, para personil kemudian berkumpul di depan panggung untuk salam perpisahan. Semua personil menundukan badan menunjukkan rasa salutnya atas fans mereka yang tetap setia menunggu mereka kembali. Mungkin memang sebuah keputusan yang tidak salah untuk membangkitkan kembali band yang sudah cukup lama mati suri ini, untuk kembali aktif di kancah panggung independen. Seperti tag awal dalam tulisan ini, dan kata-kata yang tertera pada album terbaru mereka, maka bisa dipastikan jika para pasien tak pernah rela membiarkan Rumahsakit hilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar